Motivasi & Inspirasi
4 menit baca
Kompleksitas Kesalahan Menurut Freud dan Realitas Siswa ABK (Part 2)
Abdulloh Ulil Albab, S.Pd
21 Oktober 2025
89 dilihat
2 komentar
Saya disini akan melanjutkan pembahasan sebelumnya dan masih dalam satu judul yang sama terkait kompleksitas kesalahan teori Freud dan realitas siswa ABK.
Freud mengatakan bahwa keseimbangan antara id, ego, dan superego memengaruhi cara seseorang dalam berperilaku dan bertindak.
Pada siswa dengan kebutuhan khusus, terutama yang mengalami gangguan emosi atau intelektual, fungsi ego yang menjadi alat untuk mengendalikan kesadaran dan logika sering masih belum berkembang dengan baik.
Akibatnya, mereka cenderung bertindak impulsif (id) tanpa mempertimbangkan apa nanti konsekuensinya atau akibatnya.
Superego mereka, yang berisi tentang norma-norma dan kontrol moral, belum bisa berkembang kuat, sehingga akan sangat sulit menyesuaikan diri sesuai harapan dan aturan-aturan yang ada di masyarakat ataupun di sekolah.
Kesalahan yang dilakukan oleh siswa-siswa berkebutuhan khusus, seperti berbicara tanpa memperhatikan situasi dan kondisi, tiba-tiba tertawa di saat yang tidak tepat, atau menolak tugas yang diberikan oleh orang tua maupun guru, bisa menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam struktur kepribadian menurut teori Freud. Namun, hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam konteks perkembangan yang dibandingkan dengan orang dewasa normal atau pun anak-anak seumuran mereka.
5. Kompleksitas Keempat yaitu Peran Guru sebagai "Analis" yang Empati
Freud mempercayai bahwa untuk memahami pikiran alam bawah sadar, kita perlu melakukan pendekatan dengan cara yang empatik dan tidak mudah untuk menghakimi. Hal ini menjadi sangat penting bagi pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah inklusif.
Guru atau pendidik yang mengajar siswa dengan kebutuhan khusus tidak hanya boleh melihat kesalahan sebagai pelanggaran aturan saja, tetapi juga harus mencari arti emosional di balik tindakan yang mereka lakukan itu:
Apakah siswa sedang merasa cemas?
Apakah siswa sedang merasa tidak dipahami?
Apakah kesalahan itu merupakan cara komunikasinya yang mereka anggap tepat?
Dalam situasi ini, pendekatan-pendekatan psikoanalisis memberikan pandangan yang dianggap lebih manusiawi kepada guru, yaitu bahwa setiap perilaku yang mereka lakukan meskipun terlihat aneh dan unik adalah bentuk komunikasi dari hati yang sedang ingin dipahami, bukan sekadar kesalahan yang harus dihakimi kemudian dihukum.
6. Sintesis: Menggabungkan Teori Freud dengan Realitas Pendidikan Inklusif
Pandangan Freud tetap relevan jika digunakan untuk memahami siswa dengan kebutuhan khusus, asalkan diterapkan dengan penyesuaian dan dilakukan secara sadar.
Guru perlu:
- Membedakan antara kesalahan yang disebabkan oleh faktor neurologis dan kesalahan yang mungkin memiliki makna emosional.
- Menyikapi perilaku siswa secara lebih reflektif, bukan hanya merespons secara langsung.
- Menggunakan kesalahan yang dilakukan siswa sebagai cermin untuk memahami perasaan mereka, bukan hanya untuk menilai baik atau buruknya perilaku tersebut.
Dengan cara ini, gagasan yang diajukan oleh Freud, yaitu “kesalahan adalah jalan menuju alam bawah sadar”, bisa diubah menjadi “kesalahan adalah jalan untuk memahami hati siswa secara lebih dalam”.
Kesimpulan Akhir dan Penutup
Dengan menerapkan pendekatan psikoanalisis dari Freud, kita tahu bahwa setiap kesalahan mencerminkan perasaan dan pikiran yang tidak selalu terlihat di permukaan. Namun, ketika teori ini diterapkan di kelas inklusif dan anak-anak berkebutuhan khusus, ia menjadi cara untuk melihat lebih dalam, karena jiwa anak berkebutuhan khusus tidak bisa dipahami dan dimengerti dengan cara yang sama seperti anak-anak lainnya.
Bagi siswa berkebutuhan khusus, kesalahan bukan hanya hasil atau manifestasi dari perang antara id, ego, dan superego, tetapi sering kali itu merupakan cara alami mereka untuk berkomunikasi di tengah keterbatasan-keterbatasan seperti keterbatasan berbahasa, keterbatasan persepsi, atau keterbatasan kemampuan mengatur sebuah emosi.
Dalam konteks ini, "kesalahan" tidak lagi dilihat sebagai kesalahan kecil yang biasa, melainkan sebagai "bahasa hati" yang harus dipahami. Dalam pendidikan inklusif, guru memiliki peran seperti seorang "pemaham yang penuh empati".
Tugasnya bukan mencari kesalahan dari tindakan atau perilaku anak-anak berkebutuhan khusus, tetapi memahami makna yang terkandung di balik tindakan yang tampaknya sederhana. Tugas guru bukanlah menekan perilaku yang berbeda, tetapi memahami tindakan-tindakan itu dengan empati agar setiap anak merasa diterima, bukan dihakimi.
Dari keenam kompleksitas yang sudah saya sebutkan, kita bisa melihat bersama bahwa teori psikoanalisis Freud tidak hanya terbatas di ruang maupun bilik terapi, tetapi juga memiliki makna di ruang belajar dan bangku sekolah: membantu guru memahami bahwa kesalahan siswa adalah jalan menuju empati, bukan alasan untuk sebuah hukuman.
Dan akhirnya, pendidikan inklusif kembali menyampaikan gagasan Freud dengan cara yang lebih lembut dan lebih muda dipahami:
-"Kesalahan" tidak selalu hanya kesalahan belajar, tapi bisa jadi tanda bahwa seseorang sedang berusaha keras agar hatinya bisa dimengerti.-
Tags:
#Freud
#kesalahan
#psikoanalisis
#abk
#dunia pendidikan
#pengantar umum Psikoanalisis
#inklusif
#