Motivasi & Inspirasi
4 menit baca
Kompleksitas Kesalahan Menurut Freud dan Realitas Siswa ABK (Part 1)
Abdulloh Ulil Albab, S.Pd
21 Oktober 2025
99 dilihat
4 komentar
Pengantar:
Beberapa hari lalu saya mencoba melihat-lihat koleksi buku saya lagi setelah beberapa tahun berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba, bahkan ada beberapa buku yang diperlukan kehati-hatian untuk membukanya agar tidak rusak. Dari beberapa buku itu saya mengambil salah satu buku dari Freud yang menjadi dasar pengantar umum Psikoanalisis. Ketika saya membuka buku ini, saya merasa kembali ke beberapa tahun silam, dimana awal dari kecintaan saya terhadap dunia psikologi dalam sudut pandang sastra, seperti orang yang benar-benar haus akan informasi dan pengetahuan. Namun, kali ini saya akan mencoba hal yang berbeda. Saya berfikir bagaimana jika ini diterapkan dalam dunia pendidikan inklusif, tidak dalam dunia sastra seperti yang saya sering lakukan dulu, tentu ini akan sangat menarik dan menjadi pengalaman baru bagi saya.
Sejauh ini mungkin saya rasa Freud tidak menulis teorinya untuk dunia pendidikan inklusif, namun jika kita lihat semangatnya untuk mendengar suara jiwa di balik tindakan yang sangat kecil, saya rasa ini akan tetap relevan untuk dibahas. Tetapi kali ini saya tidak akan fokus ke semua bab yang dibahas oleh Freud, karena saya rasa itu akan menjadi pembahasan yang sangat panjang. Jadi, saya disini akan fokus pada bab pertama, yaitu tentang "Mengapa Kita Melakukan Kesalahan?"
Isi:
Bagi guru atau pendidik di sekolah inklusif, memahami kesalahan siswa berarti bisa dibilang juga sanggup memahami kemanusiaan mereka, bukan menilainya dari sebuah ketepatan perilaku semata.
Pada Bab pertama buku Freud menjelaskan dan memberikan pemahaman kepada kita bahwa setiap kesalahan manusia, baik salah bicara, lupa, atau perilaku yang dianggap ganjil maupun melenceng dari semestinya, maka itu memiliki makna psikis yang berasal dari alam bawah sadar.
Namun, ketika kita mencoba menerapkan gagasan dan teori ini pada siswa ABK, muncul kompleksitas yang menarik karena bisa dibilang sistem mekanisme psikis mereka bekerja secara berbeda dari siswa pada umumnya.
1. Konsep Freud: Kesalahan adalah Manifestasi atau hasil dari Alam Bawah Sadar
Freud berpendapat bahwa kesalahan bukan sekadar “ketidaksengajaan”, "kelalaian", ataupun "keteledoran", tetapi hasil dari konflik antara keinginan alam bawah sadar dan kendali kesadaran dari setiap individu itu sendiri.
Kesalahan, dalam pandangan Freud, merupakan “pesan tersembunyi” yang menunjukkan apa yang tidak sempat diungkapkan secara sadar oleh setiap individu, baik itu secara lisan maupun perbuatan.
Sekarang, mari kita coba mempertimbangkan perspektif dari siswa berkebutuhan khusus, kesadaran dan alam bawah sadar mereka bisa dibilang sangat sering tidak bekerja sesuai dengan kesadaran dan alam bawah sadar orang pada umumnya, dalam kata lain otak mereka tidak Neurotipikal (otak yang bekerja dengan cara yang di anggap "normal" oleh standar masyarakat pada umumnya).
Hal ini menyebabkan lapisan kompleksitas baru dalam kita memahami arti dibalik cara mereka bertindak.
2. Kompleksitas pertama yang muncul adalah kesalahan itu dapat dijadikan sebagai sebuah refleksi sistem psikis yang berbeda
Tak sedikit siswa-siswa ABK memiliki sebuah ritme atau pola pemrosesan informasi serta pengetahuan yang sangat unik. Misalkan dalam satu kasus seperti Siswa autis yang sering kali memiliki kesulitan dalam menafsirkan dan mengekspresikan emosi yang dirasakan, sehingga perilaku yang muncul menjadi tampak “aneh” atau “keliru”, tapi itu kemungkinan bukan bentuk represi bawah sadar seperti yang Freud maksud, melainkan cara alami mereka mengekspresikan diri atau berkomunikasi.
Selanjutnya, dalam kasus lain siswa dengan ADHD (gangguan perhatian dan hiperaktivitas) sering melakukan kesalahan karena impulsivitas atau kurangnya fokus jangka pendek, sehingga tidak dapat diartikan bahwa itu terjadi karena konflik batin yang sering Freud maksud yaitu antara id–ego–superego.
Jadi, dalam situasi atau kondisi siswa-siswa ABK, kesalahan itu tidak selalu bermakna simbolik secara psikoanalitis, tetapi hal itu bisa mencerminkan keterbatasan atau hambatan pada neurologis, persepsi, atau sensorik mereka.
Apakah ini menjadi meniadakan pandangan freud? Tentu tidak.
Bisa jadi, di balik perilaku yang dianggap “tidak terduga” itu, tetap ada lapisan-lapisan emosi yang tersembunyi, seperti halnya kecemasan, rasa takut ditolak, atau tekanan sekitar (sosial) yang berusaha menunjukkan bahkan mencari jalan keluar melalui sebuah tindakan-tindakan yang tampak tidak terkendali atau terkontrol.
3. Kompleksitas Kedua yaitu Sulitnya Menemukan “Makna Simbolik” pada Kesalahan yang dilakukan oleh ABK
Dalam dunia psikoanalisis, setiap kesalahan dianggap atau bisa menjadi dasar bahwa itu memiliki makna simbolik yang bisa ditafsirkan.
Namun, dalam dunia ABK, makna ini tidak selalu bisa ditangkap melalui bahasa simbolik yang sama bahkan kadang diharuskan untuk berbeda.
Contoh:
Seorang siswa yang memiliki hambatan autis yang berulang kali meraut pensil meski pensilnya sudah teraut dengan baik mungkin tidak sedang “menolak pelajaran” atau mengulur-ngulur waktu agar "tidak menulis", tetapi mengalami overload sensorik dan menggunakan tindakan itu untuk menenangkan dirinya sendiri.
Siswa dengan disgrafia yang menulis huruf dengan ukuran sangat besar dan selalu melebihi garis pada kertas bukan berarti dia sedang “melawan aturan”, tetapi karena persepsi visual dan spasialnya berbeda.
Guru yang telah memahami psikoanalisis harus berhati-hati agar apa yang dilihat tidak menjadikannya memaksakan sebuah tafsir simbolik pada perilaku yang sebenarnya itu semua berakar dari biologis atau neurologis.
Namun, para guru juga perlu sadar bahwa perilaku lahiriah siswa ABK sering mengandung pesan-pesan emosional yang tersirat misalnya kebutuhan akan rasa aman, penerimaan, atau perhatian yang tidak bisa mereka ungkapkan dan utarakan secara verbal.
Tags:
#Freud
#kesalahan
#psikoanalisis
#abk
#dunia pendidikan
#pengantar umum Psikoanalisis
#inklusif
#