DISIPLIN HATI, BUKAN SEKEDAR ATURAN.
Ferriany Eka Valianty, S.Pd
17 Oktober 2025
Menjadi Guru: Sebuah Panggilan Hati
Menjadi guru adalah sebuah panggilan hati. Setiap hari, kami dihadapkan pada tantangan dan keunikan siswa dengan latar belakang serta kebutuhan belajar yang beragam. Selama 17 tahun mengabdi di Sekolah Inklusif, satu hal yang terus menjadi pondasi agar proses pembelajaran berjalan efektif dan bermakna adalah Disiplin Diri.
Disiplin diri bukan sekadar aturan atau rutinitas, melainkan sikap batin yang menuntun setiap langkah dalam mendidik. Disiplin ini tercermin dalam beberapa nilai utama:
- Disiplin yang Konsisten
- Menjaga komitmen dalam setiap tindakan, meski dalam kondisi yang tidak selalu mudah.
- Disiplin sebagai Bentuk Empati yang Nyata
- Memahami bahwa setiap anak memiliki cara, waktu, dan proses belajar yang berbeda.
- Disiplin Membangun Kepercayaan dengan Tim (Kolaborasi)
- Kerja sama yang sehat antara guru, terapis, dan seluruh tim sekolah menjadi kunci keberhasilan pendidikan inklusif.
- Disiplin Menjadi Teladan dalam Kesetaraan
- Bersikap adil, menghargai, dan memberi ruang yang sama bagi setiap anak untuk berkembang.
Oleh karena itu, komitmen untuk hadir sepenuh hati, bahkan ketika lelah, menjadi sebuah pilihan yang terus diperjuangkan. Tetap bersabar, meski diuji oleh perilaku siswa yang sulit dimengerti—khususnya siswa ABK dengan hambatan autisme saat mengalami tantrum. Tetap melihat potensi, meskipun yang tampak di permukaan hanyalah kekacauan.
Ini bukan tentang menjadi guru yang sempurna, melainkan tentang terus memilih untuk peduli.
Aturan memang dapat mengatur jadwal mengajar. Namun hanya dengan hati, kita mampu memahami lebih dalam, memaafkan lebih cepat, dan percaya sepenuhnya bahwa setiap anak memiliki jalannya sendiri untuk tumbuh dan berkembang.